22 January, 2012

Gong Xi Fat Chai


IMLEK lain dulu lain sekarang. Kalimat yang sarat mengandung makna perubahan. Perubahan menuju era sejatinya kebersamaan dalam keberagaman budaya di Tanah Air. Terefleksi dalam kemeriahan perayaan Tahun Baru Imlek 2563.

Bagi Komunitas Pasar Glodok, ada perberbedaan dari tahun ke tahun dalam menyambut Tahun Baru Imlek. Boleh jadi, dulu setiap menyambut Hari Besar Etnis Tionghoa ini, kawasan Glodok jadi pusat kemeriahan. Warga Tionghoa Jakarta akan tumpah di Kota (Kota Tua: sebutan untuk pusat Kota Batavia atau Jakarta di sekitaran Glodok).
Beberapa tahun belakangan, seiring semakin membaurnya masyarakat berbagai etnis, perayaan Imlek di Kawasan Glodok kemeriahannya terasa berkurang. Sebagai gantinya, berbagai pusat belanja di berbagai kota, tidak hanya Jakarta, dipenuhi berbagai pernak-pernik Imlek dan ragam kegiatan ritual yang meriah.

Koordinator Komunitas Pasar Glodok Hermawi Taslim mengungkapkan Pasar Glodok dahulu menjadi sentral peringatan Imlek. "Pasar Glodok sebagai pusat perdagangan ekonomi sejak zaman penjajahan sampai Orde Baru, selalu menjadi pusat perayaan Imlek setiap tahunnya," kata Taslim dalam sebuah diskusi menyambut Tahun Baru Imlek 2563 di  Jakarta, Sabtu (21/1).

Satu dekade terakhir, tepatnya di era kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid, Tahun Baru berdasarkan perhitungan kalender Cina ini resmi ditetapkan sebagai Hari Libur Nasional. Momentum itu diikuti dengan mulai sporadisnya perayakan Imlek di seluruh Indonesia.

"Jadi, sekarang diskriminasi tidak terjadi lagi. Bukan hanya Etnis Tionghoa yang merayakan Imlek, etnis lain pun boleh ikut membaur merayakan Imlek," ujar Taslim sumringah.
Tak dapat dipungkiri, kebudayaan Tionghoa merupakan bagian dari masyarakat Indonesia. Bukankah dalam pelajaran sejarah ada disebutkan nenek moyang Bangsa Indonesia berasal dari Yunan Selatan, sebuah daerah bagian selatan di bawah kekuasaan kaisar-kaisar Cina di masa lalu?


Makna perubahan lain disampaikan JJ Rizal, Sejarawan Cina dari Universitas Indonesia. Dalam diskusi tersebut, Rizal menilai  perbedaan kondisi perayaan  Imlek sekarang dibanding masa lalu, salah satunya terletak pada cara menyampaikan salam. Selama ini, sudah sangat akrab di telinga kalimat Gong Xi Fa Cai, yang artinya Selamat Semoga Murah Rezeki atau Selamat Menjadi Kaya Raya.

Padahal, menurut Rizal, dahulu warga Tionghoa merayakan Imlek hanya mengatakan Sin Cun Siomi, yang artinya Selamat Merayakan Musim yang Baru. "Ini secara historis sudah tak dikenal, khususnya orang Tionghoa di Indonesia," jelasnya.

Sedangkan perayaan Imlek bagi warga Tionghoa di Indonesia yang kini identik dengan salam Gong Xi Fa Cai, disepakati para peneliti sebagai gejala asimilasi dari Cina Daratan, yang orientasinya lebih kepada Mandarin. "Kondisi Imlek sekarang sangat berbeda dengan masa lalu," simpul Rizal penuh pengharapan agar Yang Maha Kuasa memurahkan rezeki bagi Indonesia di Tahun Naga Air ini.


Sumber : InfoPublik

4 comments:

  1. hm..
    sudah tak ada diskriminasi lagi~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Maya.. Buah karya Gus Dur waktu jadi presiden, yang penting saling menghormati aja... trims sdh mampir.

      Delete

Note: Only a member of this blog may post a comment.